Type Here to Get Search Results !

IKLAN

 



 

Wanita Ini Dijuluki Sang Perisai Rasulullah SAW, Siapa Dia?

 

Gambar Sekedar Ilustrasi 


Nusaibah binti Ka'ab Al-Anshariyah adalah seorang sahabat wanita yang berjasa dalam perjuangan dakwah...


Nusaibah binti Ka'ab Al-Anshariyah adalah seorang sahabat wanita yang agung lagi pemberani dalam berperang. Ia kerap dipanggil dengan nama Ummu Imarah dan dijuluki "Sang Perisai Rasulullah".




Ia merupakan sosok pahlawan yang tidak pernah absen melaksanakan kewajiban bilamana ada panggilan untuknya. Semua target perjuangannya ditujukan untuk kemuliaan dunia dan akhirat.


Ummu Imarah adalah seorang sahabat wanita yang agung. Ia termasuk satu dari dua wanita yang bergabung dengan 70 orang laki-laki Anshar yang hendak berbaiat kepada Rasulullah dalam Baiat Aqabah Kedua. Pada waktu itu, ia berbaiat bersama suaminya, Zaid bin Ashim, dan dua orang putranya.




Salah satu kisah kepahlawanan Nusaibah binti Ka'ab yang paling dikenal sepanjang sejarah ialah ketika ia bergabung menjadi pasukan dalam Perang Uhud.


Pada perang itu, Nusaibah bergabung dengan pasukan Islam untuk mengemban tugas penting di bidang logistik dan medis. Bersama para wanita lainnya, Nusaibah ikut memasok air kepada para prajurit Muslim dan mengobati mereka yang terluka.


Ketika kaum Muslimin dilanda kekacauan karena para pemanah di atas bukit melanggar perintah Rasulullah, nyawa beliau berada dalam bahaya. Ketika melihat Rasulullah menangkis berbagai serangan musuh sendirian, Nusaibah segera mempersenjatai dirinya dan bergabung dengan yang lainnya membentuk pertahanan untuk melindungi beliau.




Mengutip dari buku Nukilan Tarikh karya Hasan Zein Mahmud, Nusaibah binti Ka'ab ikut serta dalam Perang Uhud bersama suaminya, Ghaziyah bin Amru. Awalnya, ia hanya bertugas untuk menyiapkan kebutuhan logistik dan medis bersama para wanita lainnya.


Ia ikut membantu memasok air minum kepada para prajurit muslim dan mengobati mereka yang terluka. Ketika kaum muslimin dilanda kekacauan karena para pemanah di atas bukit melanggar perintah Rasulullah SAW, nyawa beliau berada dalam bahaya.


Melihat Rasulullah SAW yang menangkis berbagai serangan musuh sendirian, Nusaibah segera mempersenjatai dirinya dan bergabung dengan pasukan lain untuk membentuk pertahanan melindungi beliau.




Dikisahkan dalam buku Setitik Cahaya di Samudra Kehidupan karya Nurdin Hidayat, Nusaibah binti Ka'ab berperang melawan musuh Islam dalam Perang Uhud dengan sangat mengagumkan.


Ia menggunakan ikat pinggang pada perutnya hingga menderita luka-luka di sekujur tubuhnya. Dalam suatu riwayat disebutkan, Nusaibah berperang penuh dengan keberanian hingga ia tidak menghiraukan keadaan dirinya sendiri ketika membela Rasulullah SAW.


Sekurangnya ada sekitar 12 luka di tubuh Nusaibah dengan luka di bagian leher yang paling parah. Namun, hebatnya Nusaibah tidak pernah mengeluh, mengadu, ataupun bersedih sedikit pun atas segala luka yang ia rasakan.


Dalam berbagai riwayat disebutkan, bahwa ketika itu Nusaibah berperang penuh keberanian dan tidak menghiraukan diri sendiri ketika membela Rasulullah. Saat itu, Nusaibah menderita luka-luka di sekujur tubuhnya. Sedikitnya ada sekitar 12 luka di tubuhnya, dengan luka di leher yang paling parah. Namun hebatnya, Nusaibah tidak pernah mengeluh, mengadu, atau bersedih.



Ketika Rasulullah melihat Nusaibah terluka, beliau bersabda, "Wahai Abdullah (putra Nusaibah), balutlah luka ibumu! Ya Allah, jadikanlah Nusaibah dan anaknya sebagai sahabatku di dalam surga."


Mendengar doa Rasulullah, Nusaibah tidak lagi menghiraukan luka di tubuhnya dan terus berperang, membela Rasulullah dan agama Allah. "Aku telah meninggalkan urusan duniawi," ujarnya.


Kisah Nusaibah binti Ka'ab Melindungi Rasulullah SAW


Melansir dari buku 100 Muslim Paling Berpengaruh dan Terhebat Sepanjang Sejarah karya Teguh Pramono, Nusaibah binti Ka'ab pernah bercerita tentang kejadian Perang Uhud.


"Aku melihat orang-orang yang sudah menjauhi Rasulullah SAW hingga tinggal sekelompok kecil yang tidak sampai sepuluh orang. Aku, kedua anakku, dan suamiku berada di depan beliau untuk melindunginya.




Beliau SAW melihatku tidak memiliki perisai. Di sisi lain, beliau melihat ada seorang laki-laki yang merunduk sambil membawa perisai. Lalu beliau berkata, 'Berikanlah perisaimu kepada yang sedang berperang!' Lantas, laki-laki itu melemparkan perisainya kepadaku.


Aku pun menangkapnya dan menggunakannya untuk melindungi Rasulullah SAW. Kala itu, pasukan berkuda dari pihak musuh menyerang kami. Seandainya mereka berjalan kaki sebagaimana kami, insya Allah kami dapat mengalahkan mereka dengan mudah.




Tatkala ada seorang laki-laki berkuda mendekat dan memukulku, aku menangkisnya dengan perisaiku, dan ia pun tidak bisa berbuat apa-apa. Ketika ia hendak merunduk untuk memukulkan pedangnya kepadaku, aku pukul urat kaki kudanya hingga jatuh terguling.


Melihat hal itu, Rasulullah SAW berseru, 'Wahai putra Ummu Imarah! Bantulah ibumu! Bantulah ibumu!' Kemudian, putraku membantuku untuk mengalahkan musuh hingga aku berhasil membunuhnya.


Abdullah bin Zaid, salah satu putra Ummu Imarah berkata, "Saat itu aku terluka cukup parah dan daerah tidak berhenti mengalir. Rasulullah SAW berkata, 'Balutlah lukamu!'


Saat itu, Ummu Imarah sedang menghadapi musuh. Namun, mendengar seruan Rasulullah SAW, ibu menghampiriku dengan membawa pembalut dari ikat pinggangnya. Lantas, dibalutlah lukaku sedangkan Rasulullah SAW berdiri menyaksikan kami.


Ibu berkata kepadaku, 'Bangkitlah bersamaku dan terjanglah musuh!' Hal itu membuat Rasulullah SAW berkata, 'Siapakah yang mampu berbuat sebagaimana yang engkau lakukan ini, wahai Ummu Imarah?'


Kemudian datanglah orang yang tadi melukaiku, maka Rasulullah SAW berkata, 'Inilah yang memukul anakmu, wahai Ummu Imarah!' Ibu pun mendatangi orang tersebut dan langsung memukul betisnya hingga tersungkur.


Rasulullah SAW tersenyum melihat yang dilakukan oleh Ummu Imarah hingga terlihat gigi gerahamnya. Beliau berkata, 'Engkau telah menghukumnya, wahai Ummu Imarah.'"


Ketika Rasulullah SAW wafat, ada beberapa kabilah yang murtad dari Islam di bawah pimpinan Musailamah al-Kadzab. Khalifah Abu Bakar kemudian mengambil keputusan untuk memerangi orang-orang tersebut.


Saat itu juga, bersegeralah Nusaibah mendatangi Abu Bakar dan meminta izin untuk bergabung bersama pasukan lainnya. Dalam Perang tersebut, Nusaibah mendapatkan ujian yang berat. Putranya yang bernama Habib tertawan oleh Musailamah al-Kadzab dan disiksa dengan memotong anggota tubuhnya sampai mati syahid.


Pada perang Yamamah, Nusaibah dan putranya, Abdullah, juga ikut memerangi Musailamah hingga tewas di tangan mereka berdua. Beberapa tahun usai Perang Yamamah, Nusaibah dinyatakan wafat.


Semoga kita bisa mengambil hikmah dan pembelajaran dari kisah beliau. Betapa rasa cintanya kepada Rasulullah yang telah menegakkan agama Islam ini begitu kuat. Untuk itu, sejenak kita ucapkan Al Fatihah..


Itulah sepenggal kisah Nusaibah binti Ka'ab yang pernah terlibat sebagai pasukan perang wanita dan dijuluki Sang Perisai Rasulullah SAW. Semoga umat muslim dan muslimah dapat memetik hikmah dari perjuangan beliau dalam berjihad membela Islam di jalan Allah SWT.

Baca Juga

iklan